Ahmadinejad ( Presiden Yang Lain )

Posted: Juli 28, 2009 in Diskursus, Open source

IRAN adalah negara dengan sejarah dan peradaban tua, kaya dengan minyak bumi yang membawa kemakmuran rakyatnya, saat ini tetap menjadi kawasan strategis secara global, baik dari segi ekonomi, politik serta pertahanan. Tidak heran, pemilu di negeri para mullah itu, menjadi sorotan dunia.

Mahmoud Ahmadinejad terpilih kembali menjadi presiden Iran untuk keduakalinya. Ahmadinejad sementara dilaporkan menang mutlak, dengan mengantongi 62,6 persen dari total suara. Saat pemilu sebelumnya, ia mengantongi 61,9 persen suara. Mengapa tokoh yang dicap kontraversial dan garis keras itu terpilih lagi?

Terlepas dari ketidaksukaan sebagian negara-negara Barat terhadap presiden berusia 52 itu dan kerusuhan yang terjadi lantaran massa pesaingnya mantan perdana menteri Mir Hossein Mousavi, besarnya dukungan terhadap Ahmadinejad, dalam dua kali pemilihan presiden Iran, perhatian dunia kini mengarah pada Ahmadinejad.

Selain beberapa pernyataannya yang kontroversial, Ahmadinejad memang penuh kejutan. Pada bulan Mei 2006, Ahmadi Nejad mengirim surat terbuka kepada Presiden Amerika Serikat saat itu George W Bush. Ia mempertanyakan, mengapa setiap kemajuan ilmu dan teknologi di kawasan Timur Tengah dianggap dan dipromosikan sebagai ancaman terhadap Israel sebagai sekutu AS. Bukankah usaha ilmiah dan penelitian merupakan hak-hak dasar masyarakat? tulis Ahmadi Nejad.

Pertanyaan berbau gugatan ini, agaknya dilontarkan mantan wali kota Teheran itu sebagai rekasi terhadap kecurigaan Bush ketika Iran terus meningkatkan teknologi nuklirnya. Bagi Ahmadinejad, kecurigaan kemajuan ilmu dan teknologi yang digunakan untuk kepentingan militer tidak beralasan. Sebab, dengan demikian, seluruh ilmu seperti fisika, matematika dan lainnya juga harus ditentang.

Ahmadi Nejad juga menulis, ketidaksetujuannya dengan peristiwa 11 September yang dijadikan AS sebagai alasan mengejar para teroris di seluruh dunia. Pemerintah Iran mengecam aksi terorisme itu. Namun, ia juga mempertanyakan, mengapa Amerika Serikat yang terkenal memiliki sistem keamanan, teknologi informasi canggih bisa kebobolan. Mengapa tidak ada penjelasan resmi soal kelalaian aparat keamanan AS dan tidak ada yang dihukum? Tanya Ahmadinejad.

Penguasa, kata Ahmadinejad, tidak selamanya berkuasa. Masyarakat akan menilai, apakah penguasa menyiapkan kemananan dan kesejahteraan rakyatnya, atau sebaliknya, ketidakamanan dan pengangguran. Nama penguasa, akan selalu dii-ngat dan tertulis dalam sejarah. Sejarah juga menunjukkan, pemerintah yang zalim tidak akan bertahan lama.

Siapa sebenarnya Mahmud Ahmadinejad? Putra Ahmad Saborjihan ini lahir 28 Oktober 1956 di desa pertanian Aradan dekat Gamsar atau 120 kilometer tenggara Teheran. Sebelum menjadi presiden Iran keenam, ia menjabat sebagai walikota Teheran selama tiga tahun. Ia dikenal sebagai tokoh konservatif yang loyal dengan nilai-nilai revolusi Islam Iran.

Lulusan Universitas Sains dan Teknologi Iran dan meraih gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi ini, pada masa perang Irak-Iran, bergabung dengan Korp Pengawal Revolusi Islam. Ahmadinejad sering menghadapi hujan kritik. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Saat menjadi wali kota Teheran, presiden Iran Mohammad Khatami, pernah marah besar lantaran terjebak macet saat menuju Universitas Teheran. Kritik presiden itu malah dibalas Ahmadinejad dengan ucapan, “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”.

Bagi sebagian besar rakyat Iran, Ahmadinejad adalah perwujudan dorongan-doro-ngan impian tentang pemimpin anti korupsi, merakyat dan saleh. Sejak pertamakali masuk ke kantornya, Ahmadinejad menolak mengenakan jas mahal, menolak me-ninggalkan rumah yang diwarisinya dari sang ayah.

Tidak hanya itu. Saat pertama kali masuk kantor kepresidenan, Ahmadinejad memerintahkan membongkar karpet mewah istana, lalu menyumbangkannya untuk masjid-masjid di Teheran. Istana cukuplah pakai karpet biasa saja yang mudah dibersihkan.Di istana ada ruangan besar untuk menerima tamu VIP. Ruangan mewah ini ditutup, dan minta petugas protokol mengganti dengan ruangan biasa, cukup diisi dua kursi kayu. Sederhana, tetap nyaman dan mengesankan

Ia mengubah status pesawat terbang kepresidenan jadi pesawat kargo. Ini menghemat pajak dari rakyat, termasuk buat dirinya selaku presiden. Perjalanan dinas dilakukan dengan pesawat terbang biasa, dan presiden memilih kelas ekonomi saja. Ia meniadakan kebiasaan upacara memakai karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, ketika mengunjungi berbagai daerah.

Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan khusus untuk presiden Stafnya terheran-heran bercampur kagum melihat tas yang dibawa sang presiden tiap hari. Di dalamnya ada roti isi atau roti keju yang disiapkan sang istri dan di-santap dengan gembira.

Banyak pakem protokoler dirombak, misalnya, presiden tak mesti duduk eksklusif. Dan ia suka bercengkerama dengan petugas kebersihan di rumah atau kantor ke-presidenan. Ketika azan berkumandang, ia pun segera shalat — di manapun berada, meski hanya beralaskan karpet biasa.

Bersamaan dengan langkah efisiensi materi, Presiden Ahmadinejad juga memotong garis protokol untuk para menteri hingga bisa masuk langsung ke ruangannya tanpa hambatan basa-basi. Para menterinya diingatkan agar tetap hidup sederhana. Rekening pribadi maupun kerabat dekat akan diawasi. Ia pun memberi contoh: sebagai Presiden Iran, rekening banknya bersaldo minimum. Satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

Ketika berkunjung ke daerah dan menginap di hotel, Presiden Ahmadinejad minta kamar dengan ranjang tidak terlalu besar. Ia tak terlalu suka tidur di kasur, tapi justru di lantai beralaskan karpet dan selimut.Kebiasaan unik sang presiden ini terungkap dari foto-foto yang diambil adiknya. Misalnya, di rumah, selepas dari para pengawal yang selalu menjaga ke mana pun ia pergi, Presiden Iran itu pun tidur di lantai ruang tamunya.

Saat ia diwawancarai TV Fox dengan pertanyaan, ‘’Saat Anda melihat cermin tiap pagi, apa yang Anda katakan pada diri Anda?’’ Ahmadinejad berkata,’’Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan adanya ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu : melayani Bangsa Iran.”

Lalu, apa yang terjadi di republik ini? Sikap calon presiden kita menunjukkan, mereka belum dewasa. Saling sindir, saling ejek dan saling mengklaim keunggulan masing-masing. Apa yang dilakukan para capres yang nota bene sebelumnya pernah menjadi presiden, sedang menjabat sebagai presiden, atau menjadi wakil presiden, bukan sikap sebagai seorang calon pemimpin.

Sebab, salah satu kualifikasi pemimpin adalah kemampuannya membuat rakyatnya makin sejahtera, dan bukan mengklaim sebagai jasa atau kebaikannya, tapi lebih merupakan kewajibannya. Kalau tidak begitu, buat apa kita memilihnya jadi presiden? Padahal, masa jabatan seorang presiden itu terbatas. Masalahnya, mampukah ia dalam masa lima tahun itu ia akan dikenang sepanjang masa? Kita memang butuh presiden sekaligus pemimpin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s